Country Manager Hanwha Techwin Indonesia, Herry Tjhin mengatakan, perkembangan teknologi CCTV jangan sampai menjadi ‘boomerang’ saat diterapkan di perkotaan dengan konsep smart city. CCTV tidak boleh menjadi scary city (kota yang menakutkan) bagi penduduk kota yang berharap manfaat positif dari pemanfaatannya.

Saat ini, kata dia, sudah terdapat backdoor dimana CCTV yang dipasang bisa dilihat/diamati oleh seseorang yang tidak memiliki kepentingan untuk melihat/mencuri informasi.

“Kamera CCTV itu ditujukan untuk mengamankan wilayah sekitar yang dicakupnya. Maka dari itu, CCTV harus aman,” ujar Herry.

CCTV yang terpasang harus memiliki konsep keamanan terutama cybersecurity. CCTV, kata dia, sudah bisa diretas oleh aktor tidak bertanggung jawab, baik dari dalam maupun dari luar. Jika user CCTV itu sendiri lupa password, tidak dapat langsung me-reset (setel ulang) password dengan sendirinya, maka kondisi itu berbahaya. 

Serangan siber (cyberattack) terhadap perangkat CCTV sangat merugikan dan tidak pandang bulu dalam melakukan tindakan kejahatan. Solusinya, selain meningkatkan cybersecurity awareness, para pengguna CCTV dan sistem yang dipakai juga harus aman.

“Bukan masalah AI, bukan soal resolusi, tapi salah satu kunci utamanya adalah cybersecurity-nya. Kalau itu tidak aman, malah akan menjadi boomerang untuk kita,” ujarnya.

Herry mencontohkan, sangat berbahaya jika seseorang dapat mengakses CCTV di daerah vital. Salah satu akibatnya, membuka kesempatan bagi pelaku kriminal untuk melakukan hal yang negatif dimana mereka dapat memantau, mengetahui dimana, serta jam-jam tertentu saat masyarakat lengah.

Masyarakat bisa mempelajari berbahayanya CCTV yang diretas dengan membaca artikel melalui internet. Saat ini sudah terdapat kasus ribuan kamera CCTV yang diretas di berbagai kota di dunia. Bahkan tanpa smart city pun, CCTV tetap jadi incaran seperti rumah ke rumah.

“Banyak hal yang menjadi tujuan serangan para hacker dan pihak yang tidak bertanggung jawab. Diantaranya merusak hingga mengambil informasi untuk kepentingan mereka.”

Kini produk Hanwha Techwin – Wisenet memasarkan Video Surveillance berupa IP Camera, CCTV hingga Video Recorder. Herry Tjhin mengatakan, mereka siap memasuki pasar persaingan CCTV di Indonesia membawa konsep cybersecurity.

Ia bahkan mengklaim produk Wisenet Video Surveillance sudah menjalani percobaan dan simulasi jika diretas oleh pihak lain.

“Sampai saat ini kami belum mendapat informasi sistem kami berhasil diretas/dihack. Tetapi, kami tidak menutup kemungkinan dapat diretas jika ada satu lembaga khusus yang mungkin sengaja atau berniat untuk meretas produk ini,” kata Herry.

“Yang jelas kami akan buat itu sangat susah untuk diretas. Kami juga memiliki lembaga khusus (S-Cirt) yang tugasnya mengecek semua akses pada saat kamera diakses menggunakan publik internet, sehingga kalau ada arus yang mencurigakan akan langsung ditangani.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *